Produksi Kain Batik Motif Sulawesi dan Motif Klasik Jogja oleh Moro by Astoetik

Produksi Kain Batik Motif Sulawesi dan Motif Klasik Jogja oleh Moro by Astoetik

image_pdfimage_print

Kain Batik Sulawesi

Pulau Sulawesi kental dengan tradisi kain tenun, namun batik juga berkembang di daerah tersebut. Di pulau ini batik berkembang di Sulawesi Selatan (Tana Toraja), Sulawesi Tengah (Palu). dan Sulawesi Utara (Bantenan, Pinabetengan, dan Minahasa). Motif batik Sulawesi sangat beragam yang dibuat berdasarkan filosofi dan kondisi sosial budaya masyarakat serta lingkungan alam setempat. Sumber inspirasi batik Sulawesi diambil dari nilai-nilai kebudayaan lokal dan khas seperti sambulugcina, rumah adat (souraja), tai ganja, motif burung maleo, motif bunga merayap, motif resplang, motif ventilasi, motif ukiran rumah adat Kaili, bunga cegkeh dan lain sebagainya.

Astoetik dipercaya untuk menggarap desain dan motif batik khas Makassar sebanyak 20 lembar. Warna pada kain batik motif Sulawesi lebih soft  jika dibandingkan dengan kain batik lainnya. Pembuatan batik khas Bugis ini sejatinya diawali dengan pembuatan pola kemudian dilanjutkan dengan proses pencantingan atau pembuatan corak. Corak yang ditonjolkan pada batik ini adalah corak batik yang dipadukan dari berbagai unsur etnik yang ada di Sulawesi Selatan, diantaranya Parepare, Toraja, Bone, dan Makassar. Akan tetapi, pembuatan motif ini juga bisa menggunakan canting cap karena sifat motifnya yang berulang dan cukup variatif.

Kain batik motif gagrag/klasik Jogja

Yogyakarta merupakan salah satu kota yang terkenal akan budaya dan batiknya, banyak pengrajin batik di jogja yang masih membuat batik lawasan/gagrag (Batik dengan motif Tradisional). Batik gaya Yogyakarta memiliki warna yang khas. Warna dasaran atau latar batik gaya Yogyakarta adalah warna putih atau hitam (biru kehitaman). Untuk pewarnaannya didominasi oleh warna cokelat – soga, putih bersih – pethak, biru tua – wedel, serta hitam – cenderung biru pekat kehitaman.

Jika diamati, warna batik gaya Yogyakarta cenderung mengarah ke warna-warna tanah. Pemilihan warna batik ini memang tidak lepas dari pengaruh geografis dan kondisi alam dari wilayah Yogyakarta yang kehidupan masyarakatnya dulu selalu berhubungan dengan tanah dan pertanian.

Di penghujung tahun ini, Astoetik menggarap beberapa motif batik khas Yogyakarta diantaranya : kawung, parang, nitik, sekarjagad, sidoluhur, sidomukti, wahyu tumurun, dan ceplok kasatriyan. Totalnya ada 200 lembar kain batik yang akan dipergunakan untuk SMK Negeri 6 Yogyakarta dengan spesifikasi lebar 115cm dan panjang 225cm.

Masyarakat Jogja lebih senang menyebutnya dengan kain jarik. Jarik banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa. Beberapa di antaranya adalah sebagai pakaian, alas tempat tidur bayi, gendongan bayi, hingga penutup untuk jasad orang.

Perempuan yang baru saja melahirkan juga dianjurkan memakai jarik agar posisi tubuhnya tidak bergerak banyak sehingga proses pemulihan bisa berlangsung lebih cepat. Saat ini memang sudah banyak alat yang dikhususkan untuk kebutuhan tertentu, namun bagi sebagian masyarakat, jarik tetap merupakan yang paling nyaman digunakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*