Pengajian “Menjadi Pribadi yang Bermanfaat” & Bakti Sosial PMCT Astoetik 2021

Pengajian “Menjadi Pribadi yang Bermanfaat” & Bakti Sosial PMCT Astoetik 2021

Pada hari Sabtu, tanggal 9 Januari 2020 yang lalu, PT. PMC Teknikindo (PMCT) & CV. Astoetik Indonesia kembali mengadakan acara Pengajian dengan tema “Menjadi Pribadi yang Bermanfaat” & Bakti Sosial berupa pembagian sembako kepada warga kurang mampu di dusun Jeblog. Kegiatan ini dimulai jam 15.00 WIB dan bertepatan dengan 7 tahun berdirinya usaha PMCT. Bertempat di Sanggar Baru Astoetik yang akan digunakan untuk produksi kain, seragam batik dan pelatihan batik. Sanggar Baru Astoetik ini juga menjadi sentra kesenian membatik dan berbagai kegiatan sosial lainnya yang berada di Jeblog RT 02, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul.

Kegiatan ini diniatkan antara lain untuk:

  1. Ikhlas dan semata-mata hanya untuk mencari ridho Allah subhanahu wa ta’ala.
  2. Mengikuti tuntunan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam.
  3. Bersedekah kepada orang lain baik berupa ilmu, harta, pikiran dan tenaga.
  4. Menjalin hubungan baik dengan mitra, tokoh & warga di dusun Jeblog.

Adapun rangkaian acaranya dimulai dengan Pembukaan, Sambutan Founder & CEO PT. PMCT & CV. Astoetik, Sambutan Bapak Dukuh yaitu Bapak M. Joko Pramono, Pengajian dilanjutkan Doa oleh Ustadz Setiawan Tugiyono, MHI حَفِظَهُ اللهُ dan Penutup serta Pembagian Sembako.

Pada pengajian tahun lalu tentang usaha yang berkah, bahwa “Usaha yang berkah adalah yang membuat pemilik & karyawan berbuat baik, lebih dekat dengan Sang Pencipta & banyak sedekah”. Sehingga ada beberapa kebijakan yang dijalankan terus di perusahaan seperti sholat berjamaah di masjid bagi karyawan laki-laki dan tadarus rutin pekanan setiap Sabtu pagi dilanjutkan koordinasi pekerjaan, serta kegiatan spiritual lainnya.

Sedangkan pada pengajian tahun ini terkait dengan pribadi yang bermanfaat, dicontohkan oleh ustadz pada sosok Utsman bin Affan, salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang kaya dan juga dermawan. Pada saat dulu di Madinah hanya ada satu sumur yang mengeluarkan air dan dimiliki seorang Yahudi. Seorang Yahudi tersebut menjual airnya kepada umat Islam dengan harga yang cukup tinggi. Tentu saja umat Islam menjadi resah dengan persoalan ini. Kabar ini akhirnya sampai kepada Rasulullah. Rasulullah lantas menyeru kepada para sahabatnya untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Sehingga Utsman membelinya dan kaum Muslimin dapat menikmati air darinya secara gratis, sebab Utsman hanya mengharapkan ridha dan pahala dari Allah Ta’ala. Hingga kini sumur Utsman bin Affan di Madinah itu masih dapat dijumpai. Masyarakat pun terus memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Suatu amalan yang tak putus-putus mengalirkan kebaikan. Semoga kita semua dapat meneladaninya dan dapat menambah keberkahan usaha serta semua aktivitas yang kita lakukan. Aamiin. (NS).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*