Kerjasama United Nations dengan CV. Astoetik untuk Lapas Wanita Semarang

Kerjasama United Nations dengan CV. Astoetik untuk Lapas Wanita Semarang

Pada bulan Desember 2019 Astoetik mendapatkan kerjasama dengan UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime) terkait pengadaan peralatan dan bahan batik untuk Lapas Wanita Kelas II A Semarang. Hal ini selaras dengan Program Deklarasi Doha yang bertujuan membantu negara-negara dalam mencapai dampak positif dan berkelanjutan untuk narapidana, pencegahan korupsi dan supremasi hukum. Program Global ini berfokus pada empat komponen yang sangat spesifik dan saling terkait yaitu: (1) memperkuat integritas peradilan dan pencegahan korupsi, (2) membina rehabilitasi tahanan dan integrasi sosial, (3) mencegah kejahatan pemuda melalui olahraga, (4) dan mendorong budaya penegakan hukum di sekolah-sekolah dan universitas melalui inisiatif ‘Education for Justice'.

Ada banyak jenis peralatan yang dibutuhkan seperti kompor minyak, canting cap tembaga motif Semarang, kompor listrik, canting, gawangan, kursi plastik, ember, tangga, kipas hingga APAR. Selain itu juga bahan-bahan batik seperti malam, soda abu, kain, pewarna alami, dan tawas. Pengiriman peralatan dan bahan batik ke Semarang dilakukan pada tanggal 30 Desember 2019. Tim Astoetik mengecek jumlah dan kondisi barang sebelum keberangkatan dengan dibantu oleh beberapa siswi PKL.  Perjalanan dari Jogja ke Semarang membutuhkan waktu sekitar lima jam tanpa melewati jalan tol.

Pukul 16.00 WIB tepat, tim Astoetik tiba di Lapas Wanita Kelas II A Semarang dan disambut oleh Ibu Gayatri selaku Sie Kegiatan Lapas tersebut. Kondisi Lapas ternyata diluar dugaan, tempatnya sangat bersih dan asri. Di ruangan pertama terdapat rak-rak etalase lengkap dengan buah tangan para tahanan disana. Ada tulisan di dinding “From Nothing to Something” yang mungkin bisa memberikan semangat lebih bagi mereka untuk terus berkarya. Barang yang dipajang sangat beraneka ragam berupa baju, tas, bordir, dan asesoris wanita lainnya. Kami sangat terkesan ketika memasuki ruangan tersebut. Jumlah total narapidana di Lapas tersebut kurang lebih sekitar 300an tahanan wanita.

Lapas ini mendapatkan bantuan dari UNODC setelah sebelumnya organisasi tersebut berkunjung ke beberapa Lapas. “Mereka (UNODC) pernah berkunjung kesini dalam rangka melakukan seleksi Lapas terbaik untuk diberikan bantuan.” kata Bu Gayatri menjelaskan kepada tim Astoetik. Mudah-mudahan setelah mendapatkan bantuan ini bisa bermanfaat untuk para tahanan dalam meningkatkan skill mereka untuk bisa berkarya dan menjadi something (sesuatu yang berguna). (AP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*